InfraLoka AcademyPathwayAI
PathwayAI

Modul 1 · Mulai dengan aman

Pasal yang dikarang: jangan pernah mengutip tanpa membuka teksnya

4 menit baca5 menit bacaDitinjau 26 Oktober 2026

Intinya

Model menebak teks, jadi nomor pasal dan nomor putusan mudah dikarang. Setiap rujukan hukum dari AI baru boleh dipakai setelah kamu membuka teks resminya dan mencocokkan bunyinya. Beri tiap rujukan status: cocok, berbeda, atau belum ditemukan.

Setelah pelajaran ini kamu bisa

  • Menjelaskan kenapa model bisa mengarang nomor pasal, bunyi pasal, dan nomor putusan yang terdengar meyakinkan
  • Memeriksa setiap rujukan hukum dari AI terhadap teks resmi sebelum masuk ke dokumen apa pun
  • Meminta AI bekerja hanya dari teks hukum yang kamu tempel dan menandai apa yang tidak ada di teks itu

Istilah di pelajaran ini

Pahami

Di Level 1 kamu sudah belajar kenapa model mengarang: model bahasa besar (large language model, LLM) memprediksi teks yang paling mungkin, bukan mengambil teks dari sumber. Di pekerjaan hukum, gejala ini, yang biasa disebut halusinasi (hallucination), punya bentuk yang khas dan berbahaya, karena rujukan hukum punya pola yang mudah ditiru: "Pasal sekian ayat (sekian) huruf sekian", "Putusan Nomor sekian/Pdt.G/tahun/PN kota". Model sudah membaca ribuan rujukan seperti itu, jadi ia bisa menghasilkan rujukan baru yang bentuknya sempurna tetapi isinya tidak pernah ada.

Karangan di bidang hukum biasanya muncul dalam lima bentuk. Nomor pasal salah: isinya kira-kira benar, tetapi letaknya di pasal lain. Bunyi pasal campuran: kalimat yang menggabungkan dua ketentuan, atau ketentuan dari undang-undang lain. Pasal yang sudah berubah: bunyi lama yang sudah diubah, dicabut, atau dinyatakan tidak berlaku. Putusan fiktif: nomor, tanggal, dan pertimbangan pengadilan yang tidak pernah ada, atau nomor asli dengan isi yang salah. Kutipan pendapat ahli yang dikarang: nama penulis yang benar dengan kalimat yang tidak pernah ia tulis.

Bahayanya ada pada nada yakin. Jawaban yang menyebut nomor pasal tampak lebih dapat dipercaya daripada jawaban yang tidak menyebut apa pun. Padahal nomor itu bisa dikarang sama mudahnya dengan kalimat lain. Dari teks jawaban saja, kamu tidak bisa membedakan rujukan yang benar dari yang dikarang. Satu-satunya cara adalah membuka sumbernya.

Karena itu aturan di track ini sederhana dan tidak punya pengecualian: tidak ada rujukan hukum yang masuk ke dokumen apa pun, baik memo internal, draf kontrak, maupun surat, sebelum seseorang membuka teks resminya dan mencocokkan bunyinya. Teks resmi berarti peraturan dari basis data (database) peraturan pemerintah seperti JDIH, atau salinan putusan dari direktori resmi pengadilan, bukan ringkasan di blog atau ingatan model. Dan model tidak pernah menjadi pemeriksa bagi dirinya sendiri.

Supaya pemeriksaan ini bisa dilacak, beri setiap rujukan satu dari tiga status. Dicek, cocok: kamu membuka teks resmi versi yang berlaku untuk fakta dan tanggalnya, dan bunyinya sama. Dicek, berbeda: pasalnya ada, tetapi bunyi atau nomornya lain; tulis yang benar dan buang yang salah. Belum ditemukan: kamu tidak menemukannya di sumber resmi; rujukan ini tidak boleh dipakai sampai ditemukan, dan bila tidak pernah ditemukan, catat bahwa AI mengarangnya. Catat juga dari mana kamu membuka teksnya dan kapan, supaya advokat yang membaca memomu bisa mengulang pemeriksaan itu dalam satu menit.

Contoh

Sebelum

Permintaan

Sebutkan pasal UU PDP yang mengatur denda untuk perusahaan yang datanya bocor, lengkap dengan bunyinya.

Hasilnya

Menurut Pasal 99 ayat (3) UU PDP, "Setiap perusahaan yang lalai menjaga data pribadi dikenai denda paling banyak sepuluh kali omzet tahunan."

Sesudah

Permintaan

Tujuan: saya menyiapkan catatan internal tentang sanksi dalam UU PDP. Pembaca: advokat di tim saya, yang akan memeriksa. Bahan: teks bab sanksi UU No. 27 Tahun 2022 yang saya salin dari sumber resmi, di bawah ini. Batas: pakai hanya teks yang saya tempel. Jangan menambah pasal dari ingatan. Bila sesuatu tidak diatur di teks ini, tulis "tidak ada di teks yang ditempel". Bentuk: tabel dengan kolom pasal, jenis sanksi, kutipan kalimat aslinya. Cek: setiap baris harus punya kutipan yang bisa saya temukan dengan pencarian kata di teks. [teks bab sanksi]

Hasilnya

Tabel berisi pasal-pasal dari teks yang ditempel, masing-masing dengan kutipan kalimat aslinya. Baris terakhir: "Besaran denda untuk jenis pelanggaran yang ditanyakan: tidak ada di teks yang ditempel; perlu dicek ke bagian lain undang-undang atau aturan pelaksananya."

Yang berubah

  • Nomor pasal dan kutipan di jawaban pertama sengaja kami karang untuk latihan; jangan dipakai. Teks resmi UU PDP berhenti jauh sebelum nomor itu.
  • Di permintaan yang lebih baik, teks resmi ikut ditempel sebagai bahan dan model diminta memberi kutipan yang bisa dicari, jadi setiap baris bisa diperiksa.
  • Jawaban "tidak ada di teks yang ditempel" lebih berguna daripada jawaban yakin yang salah.

Kesalahan umum

Kesalahan
Menanyakan kepada model yang sama, "Apakah pasal itu benar?", lalu menganggap jawaban "ya" sebagai pemeriksaan.
Kenapa merugikan
Model cenderung membela jawabannya sendiri dan bisa mengarang konfirmasi sama mudahnya dengan mengarang pasal. Kamu tidak mendapat bukti baru, hanya tebakan kedua yang terdengar lebih yakin.
Lakukan ini
Buka teks resmi sendiri, cari kalimatnya dengan pencarian kata, cocokkan nomor dan bunyinya, lalu catat status, sumber, dan tanggal kamu membukanya.

Coba

Buka setiap kartu: apa yang perlu kamu lakukan saat melihat tanda ini di jawaban AI?

Memo untuk advokat harus dikirim satu jam lagi. AI memberimu tiga rujukan pasal. Dua sudah kamu cocokkan dengan teks resmi, satu belum sempat kamu temukan. Apa yang kamu lakukan?

Bawa pulang

Cek setiap rujukan hukum dari AI

  • Saya membuka teks resmi dari basis data peraturan atau direktori putusan, bukan ringkasan
  • Saya mencari kalimatnya dengan pencarian kata dan mencocokkan nomor serta bunyinya
  • Saya memastikan versi teksnya berlaku untuk fakta dan tanggal di perkara ini
  • Saya memberi status: dicek cocok, dicek berbeda, atau belum ditemukan
  • Saya mencatat sumber dan tanggal saya membukanya
  • Rujukan yang belum ditemukan tidak masuk ke dokumen sebagai dasar

Yang salah di tempat kami

Insiden, Oktober 2026
Konteks
Kami membuat alat bantu analisis yang menyaring unggahan media sosial terhadap pasal-pasal undang-undang yang relevan.
Yang terjadi
Dalam uji awal, model menyebut nomor pasal dan bunyi yang terdengar meyakinkan. Dari keluarannya saja, kami tidak bisa tahu mana yang benar.
Dampaknya
Tidak ada yang sampai ke pengguna. Kalau lolos, analisis hukum bisa berdiri di atas pasal yang salah.
Akar masalah
Model menebak teks yang paling mungkin, bukan mengambil teks dari sumber. Nomor pasal adalah pola yang mudah ditiru.
Yang kami lakukan
Alat itu diubah untuk menampilkan teks pasal dari sumber yang tersimpan, bukan dari ingatan model, dan menandai semua keluaran sebagai draf.
Pengaman yang kami pasang
Setiap pasal yang dikutip harus diverifikasi penasihat hukum terhadap sumber resmi sebelum dipakai.

PelajarannyaRujukan yang terdengar tepat tetap harus dicek ke sumbernya.

Artinya untuk kerjamuSetiap nomor pasal, angka, atau kutipan dari AI baru boleh kamu pakai setelah kamu menemukannya sendiri di teks resminya.